Organization Development partner for business transformation and growth

Dari Gen Z untuk Leader

Gen Z tidak sulit diatur, mereka hanya ingin dipimpin dengan cara yang berbeda. Berbeda yang seperti apa?

Sebagai Gen Z saya cukup sering mendengar, “Anak sekarang susah diatur.” Katanya terlalu sensitif, terlalu banyak maunya, tidak tahan tekanan, gampang resign, dan dianggap kurang loyal dibanding generasi sebelumnya.

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, mungkin bukan generasinya yang terlalu berbeda. Bisa jadi cara memimpinnya yang belum ikut berubah.

Dalam penelitian dari J. Salvadorinho tentang generasi dan masa depan dunia kerja, dijelaskan bahwa Gen Z cenderung berkembang di lingkungan kerja yang memiliki purpose, fleksibilitas, kesempatan belajar, dan leadership yang suportif serta kolaboratif. Penelitian tersebut juga menekankan bahwa leadership semakin bergerak ke arah hubungan yang berbasis trust, empathy, empowerment, dan komunikasi yang terbuka antar generasi.

Artinya, ekspektasi terhadap seorang leader memang sudah berubah.

Gen Z tumbuh di era di mana akses terhadap informasi sangat terbuka. Mereka terbiasa mempertanyakan sesuatu, terbiasa mencari alasan di balik keputusan, dan terbiasa berada di ruang yang memungkinkan diskusi dua arah. Karena itu, ketika masuk ke lingkungan kerja yang komunikasinya penuh tekanan, terlalu hierarkis, atau tidak memberi ruang untuk bicara, banyak yang akhirnya merasa tidak terhubung. Bukan karena mereka tidak mau bekerja keras.

Mereka hanya tidak lagi melihat tekanan dan rasa takut sebagai satu-satunya cara untuk bekerja.

Masalahnya, banyak organisasi masih menganggap keterlibatan karyawan bisa dibangun hanya lewat target, KPI, atau kompensasi. Padahal penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa nilai-nilai seperti trust, autonomy, work-life integration, dan recognition semakin menjadi faktor penting bagi generasi muda dalam memilih dan bertahan di tempat kerja.

Banyak yang justru mulai kehilangan keterikatan ketika pekerjaannya terasa tidak punya makna selain sekadar menyelesaikan tugas.

Akhirnya muncul fenomena yang sekarang semakin sering terlihat:

physically present, mentally absent.

Secara fisik masih bekerja, tetapi secara emosional sudah tidak benar-benar terhubung dengan pekerjaannya.

Dari penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa keberagaman antar generasi seharusnya tidak dilihat sebagai sumber konflik, tetapi sebagai kekuatan organisasi. Gen Z membawa emotional agility dan kebutuhan akan meaningful work, sementara generasi lain membawa pengalaman, pragmatisme, dan institutional memory. Ketika semuanya bisa dipertemukan dengan leadership yang tepat, organisasi justru bisa menjadi lebih resilient.

Sayangnya, banyak tempat kerja masih sibuk membandingkan generasi, bukan mencoba memahami perubahan yang sedang terjadi.

Gen Z tidak sedang menolak kerja keras. Mereka hanya tidak ingin menghabiskan sebagian besar hidupnya di lingkungan yang membuat mereka kehilangan diri sendiri.