Saat pagi menyapa, seorang pekerja muda, sebut saja dia Tasya, menatap layar laptop dengan pandangan kosong. Di balik senyumnya, ada rasa lelah yang tak kasat mata. Ia seorang milenial yang baru saja memasuki dunia profesional Di sisi lain, ada Alex, Gen Z, yang baru memasuki lapangan kerja dengan semangat dan idealisme besar, namun cepat goyah oleh tanggung jawab yang datang bertubi.

Hal ini terjadi berdasarkan kisah nyata. Dalam sebuah diskusi oleh Universitas Paramadina tahun 2024, diungkap bahwa Gen Z berisiko tinggi mengalami stres karena dorongan hasil instan dan kurangnya waktu menghargai proses. Ekspektasi tinggi ini, ditambah dengan ketidakpastian ekonomi, menciptakan tekanan psikologis yang besar.
Data yang tak kalah mencengangkan datang dari hasil survei Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa (KesWA). Survei terhadap lebih dari 5.500 responden menunjukkan bahwa Gen Z pekerja perempuan muda dua kali lipat lebih rentan mengalami stres. Hal ini ditandai oleh keletihan dan kurang semangat, karena pekerjaan dan peran yang membaur tak jelas antara kantor dan rumah.
Kementerian BUMN pun tak tinggal diam. Menanggapi survei kesejahteraan awal 2024, mereka meluncurkan program Compressed Work Schedule (CWS), kerja 4 hari seminggu, untuk menekan tingkat stres dan mendukung kesehatan mental khusus bagi Gen Z di lingkungan BUMN
Dari sisi produktivitas, riset Proxsis HR berbasis data Deloitte 2024 menguak fakta bahwa 46% Gen Z dan 39% Milenial di tempat kerja mengalami gangguan kecemasan. Tak hanya berdampak mental, ini juga menurunkan produktivitas hingga 35% dan mendorong 45% karyawan mempertimbangkan resign, sementara akses ke layanan psikologis hanya dimiliki oleh 22% pekerja.
Kasus Tasya dan Alex ini bukan kasus terpencil. Mereka adalah cerminan generasi muda yang mencari makna dalam pekerjaan, tapi sering terbentur oleh sistem yang belum sepenuhnya mendukung. Ini bukan hanya soal kelelahan, tapi tentang panggilan terhadap organisasi untuk hadir secara empatik, konkret, dan strategis.
Apa yang Bisa Organisasi Lakukan?
Kami percaya bahwa kesehatan mental generasi muda di dunia kerja tidak bisa dianggap sebagai isu sampingan. Setiap perusahaan dapat memulainya dari langkah-langkah sederhana:
- Membuat survei internal untuk memetakan tingkat stres dan kebutuhan karyawan.
- Menyediakan pelatihan kepemimpinan agar atasan mampu mendukung timnya, bukan hanya menekan target.
- Menerapkan kebijakan fleksibel seperti jam kerja hybrid atau compressed work schedule yang memberi ruang keseimbangan hidup.Menyediakan akses konseling profesional, atau membekali leader perusahaan dengan keterampilan coaching dan konseling, agar karyawan punya tempat aman untuk mencari bantuan.
Mulai dengan mendengarkan, lalu tindak lanjuti dengan kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan karyawan. Dengan ini, kinerja organisasi akan tetap optimal, dan menumbuhkan generasi muda yang loyal serta produktif dalam jangka panjang.
Jika perusahaan Anda ingin merancang strategi kesehatan mental sekaligus budaya kerja yang lebih manusiawi, Pace Synergic siap menjadi mitra untuk membantu mewujudkannya.