Organization Development partner for business transformation and growth

What Your Team Notices About Your Leadership Every Day

Motivasi dan keterlibatan karyawan ternyata sangat dipengaruhi oleh perilaku interpersonal dari leader dan lingkungan kerjanya sehari-hari. Nada bicara atasan saat memberi feedback. Cara leader merespons kesalahan. Ekspresi meremehkan ketika ide disampaikan. Tidak pernah ada apresiasi meskipun tim sudah berusaha maksimal. Atau sekadar suasana kerja yang membuat orang merasa tidak nyaman untuk menjadi dirinya sendiri. Pendekatan Self-Determination Theory, menjelaskan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis dasar dalam bekerja:

  1. Autonomy
    → merasa dipercaya, punya kendali, dan tidak terlalu dikontrol
  2. Competence
    → merasa mampu, dihargai, dan diakui kemampuannya
  3. Relatedness
    → merasa diterima, diperhatikan, dan punya hubungan yang sehat dengan orang sekitar

Sederhananya, setiap orang butuh merasa dipercaya, merasa mampu, dan merasa diterima.

Kebutuhan pertama adalah autonomy. Orang ingin merasa dirinya punya ruang untuk berpikir, mengambil keputusan, dan dipercaya dalam pekerjaannya. Namun banyak leader justru tanpa sadar menciptakan lingkungan yang terlalu controlling. Semua hal harus sesuai cara mereka. Semua keputusan dipusatkan ke atasan. Kesalahan kecil langsung ditekan. Lama-kelamaan orang tidak lagi bekerja karena punya rasa tanggung jawab, tetapi hanya karena takut salah.

Ketika rasa autonomy hilang, orang mulai kehilangan keterhubungan dengan pekerjaannya sendiri.

Kebutuhan kedua adalah competence, yaitu kebutuhan untuk merasa dirinya mampu dan dihargai. Masalahnya, banyak lingkungan kerja lebih fokus mencari kesalahan dibanding menghargai effort. Ketika seseorang terus dikritik, diragukan, atau dibuat merasa tidak cukup baik, perlahan rasa percaya dirinya ikut menurun.

Komentar sarkastik saat meeting. Nada merendahkan ketika memberi revisi. Atau kebiasaan membandingkan anggota tim satu sama lain.

Mungkin bagi leader itu hanya “candaan” atau bentuk ketegasan. Namun bagi orang yang menerimanya setiap hari, pengalaman itu bisa membuat mereka perlahan kehilangan keberanian untuk mencoba, berbicara, bahkan berinisiatif.

Kebutuhan ketiga adalah relatedness, yaitu kebutuhan untuk merasa diterima dan punya hubungan yang sehat dengan lingkungan kerjanya. Banyak orang bertahan di pekerjaan bukan semata karena pekerjaannya mudah, tetapi karena mereka merasa punya tempat di sana.

Sebaliknya, ketika suasana kerja terasa dingin, penuh tekanan, dan minim empati, orang mulai menjaga jarak secara emosional. Mereka hadir secara fisik, tetapi tidak lagi benar-benar terhubung dengan tim maupun pekerjaannya.

Ketika tiga kebutuhan psikologis ini terganggu, dampaknya bukan cuma ke well-being seseorang, tetapi juga ke effort dan performa kerja sehari-hari.