Apa yang terbesit di pikiran Anda Ketika mendengar Toxic Leadership?
Banyak orang membayangkan toxic leadership sebagai sesuatu yang lahir dari ego besar, temperamen buruk, atau karakter yang memang manipulatif sejak awal. Gambaran tentang leader toxic biasanya identik dengan sosok yang suka marah, merendahkan bawahan, haus validasi, dan ingin selalu menjadi pusat kontrol di dalam organisasi.
Perilaku abusive leadership sering kali tidak sesederhana itu, karena di balik banyak perilaku controlling dan toxic, sebenarnya ada rasa takut yang terus bekerja di dalam diri seorang leader, takut kehilangan posisi, takut kehilangan pengaruh, takut tidak lagi dianggap penting, atau takut suatu hari ada orang lain di dalam tim yang terlihat lebih kompeten dibanding dirinya sendiri.
Rasa takut seperti ini sering kali tidak muncul dalam bentuk yang eksplisit. Seorang leader tentu tidak akan mengatakan secara langsung bahwa dirinya merasa terancam oleh bawahannya sendiri. Namun ketakutan itu perlahan muncul lewat cara mereka memimpin sehari-hari. Mereka mulai sulit memberi kepercayaan penuh kepada tim, terlalu mengontrol detail kecil yang sebenarnya tidak perlu, mudah defensif ketika menerima masukan, atau merasa tidak nyaman ketika ada anggota tim yang mulai menonjol dan mendapat perhatian lebih dari lingkungan sekitar. Bahkan dalam beberapa kasus, leader mulai melihat perkembangan bawahannya bukan sebagai keberhasilan tim, melainkan sebagai ancaman terhadap posisi dan kontrol yang selama ini mereka miliki.
Ketika rasa takut kehilangan kekuasaan bertemu dengan karakter Machiavellianism, yaitu kecenderungan seseorang untuk mempertahankan posisi dan kepentingannya melalui kontrol, manipulasi, dan strategi yang berpusat pada dirinya sendiri, maka kemungkinan munculnya abusive supervision menjadi jauh lebih tinggi. Fokus seorang leader bukan lagi membangun tim yang sehat dan berkembang, tetapi menjaga agar dirinya tetap menjadi pusat kekuasaan di dalam organisasi. Mereka mulai merasa perlu mengetahui semua hal, terlibat dalam semua keputusan, dan memastikan bahwa tidak ada orang lain yang terlihat terlalu kuat di dalam timnya sendiri.
Situasi ini berbahaya karena perilaku toxic seperti ini sering kali dibungkus atas nama profesionalisme, ketegasan, atau standar kerja tinggi. Banyak leader merasa bahwa kontrol berlebihan adalah bentuk tanggung jawab. Banyak yang merasa bahwa tekanan terus-menerus adalah cara menjaga performa tim. Bahkan tidak sedikit yang menganggap bahwa rasa takut dari bawahan adalah tanda bahwa leadership mereka dihormati. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah suasana kerja perlahan dipenuhi ketegangan emosional yang tidak sehat. Orang-orang mulai bekerja dengan rasa hati-hati yang berlebihan. Mereka memilih diam dibanding jujur, memilih mengikuti arus dibanding memberi masukan, dan mulai kehilangan keberanian untuk benar-benar menjadi dirinya sendiri di tempat kerja.
Dalam jangka pendek, pendekatan seperti ini mungkin masih bisa menghasilkan performa karena orang-orang bekerja dalam tekanan dan rasa takut. Namun dalam jangka panjang, kondisi ini perlahan mengikis psychological safety di dalam tim. Kreativitas menurun karena orang takut salah. Inisiatif hilang karena semua keputusan harus melewati kontrol leader. Hubungan antar anggota tim menjadi penuh kewaspadaan karena suasana kerja tidak lagi dibangun di atas rasa percaya, tetapi rasa takut membuat kesalahan.
Ironisnya, semakin besar rasa takut seorang leader kehilangan kuasa, semakin besar juga kemungkinan ia kehilangan hal yang sebenarnya paling penting dalam leadership: kepercayaan dari timnya sendiri. Karena orang mungkin bisa patuh terhadap kontrol, tetapi mereka tidak akan benar-benar terhubung dengan leadership yang membuat mereka terus merasa terancam. Rasa hormat yang sehat tidak lahir dari tekanan, intimidasi, atau dominasi berlebihan, melainkan dari kemampuan seorang leader untuk tetap merasa aman melihat orang lain berkembang tanpa merasa dirinya tergeser.
Dan mungkin di situlah banyak toxic leadership sebenarnya bermula. Bukan dari kekuatan yang terlalu besar, tetapi dari rasa takut yang tidak pernah benar-benar disadari dan akhirnya dilampiaskan kepada orang-orang yang dipimpinnya setiap hari.

