Organization Development partner for business transformation and growth

Membangun Budaya Continous Improvement

Coba jawab dengan jujur, ”Kapan terakhir kali tim Anda mengubah cara kerja?” Bukan karena klien komplain, bukan karena target meleset, bukan karena atasan tiba-tiba bertanya ’Mengapa hal ini bisa terjadi?’  tapi murni karena seseorang berpikir, ’Ini bisa lebih baik’, di hari yang biasa-biasa saja?

Kalau butuh waktu lama untuk mengingatnya, itu bukan kebetulan. Kebanyakan organisasi punya satu kesamaan yang jarang diakui terang-terangan, mereka hanya benar-benar berubah ketika dipaksa. Selama tidak ada yang pecah, semua proses yang berjalan, sebagus atau seburuk apa pun cenderung dibiarkan apa adanya, sampai satu hari sesuatu retak cukup keras untuk didengar semua orang.

Alarm yang Baru Berbunyi Setelah Kebakaran

Bayangkan sebuah gedung yang detektor asapnya sengaja dimatikan, dan baru dinyalakan lagi setelah api benar-benar membesar. Kedengarannya konyol, untuk apa punya alat pendeteksi kalau baru dipakai setelah kebakarannya tidak lagi butuh dideteksi? Tapi cara kerja semacam ini justru persis yang dilakukan banyak organisasi terhadap proses bisnisnya sendiri. Evaluasi hanya dinyalakan setelah masalahnya sudah cukup besar untuk terlihat tanpa alat bantu apa pun.

Bedanya dengan gedung yang detektor asapnya mati, kerugian versi organisasi ini tidak langsung terlihat sebagai kebakaran. Ia muncul lebih pelan, karyawan terbaik resign karena lelah bekerja dengan proses yang berantakan, klien lama diam-diam pindah ke kompetitor tanpa pernah menyampaikan keluhan secara langsung, atau margin keuntungan yang terus menipis tanpa ada satu penyebab tunggal yang bisa ditunjuk. Semua ini adalah kebakaran juga, hanya saja asapnya tidak cukup pekat untuk memicu alarm sampai kerusakannya sudah jauh menjalar.

Ada alasan yang masuk akal kenapa pola ini bertahan begitu lama di hampir semua organisasi. Memperbaiki sesuatu yang sudah jelas rusak tidak butuh persetujuan siapa pun, semua orang otomatis sepakat itu perlu dilakukan. Sebaliknya, mengusulkan perbaikan pada sesuatu yang masih jalan kok sering harus melewati pertanyaan tak terucap, memangnya ada yang salah? Kalau belum ada yang komplain, kenapa harus repot?

Pertanyaan semacam ini terdengar rasional, tapi diam-diam menciptakan insentif yang terbalik. Pertanyaan ini menghargai orang yang datang dengan solusi setelah kebakaran, dan mengabaikan orang yang datang lebih dulu dengan peringatan sebelum apinya menyala. Padahal yang kedua jauh lebih bernilai, hanya saja jasanya tidak pernah bisa dibuktikan dengan pasti, karena kalau berhasil dicegah, krisisnya memang tidak pernah terjadi.

Solusi yang lahir dari tekanan biasanya diambil dengan napas terengah-engah, cepat diputuskan, cepat dijalankan, dan jarang sempat ditelusuri sampai ke akar masalah karena semua orang sudah keburu lega begitu apinya padam. Solusi yang lahir dari kebiasaan rutin punya kemewahan yang tidak dimiliki solusi darurat: waktu untuk berpikir tenang, ruang untuk mencoba beberapa opsi sebelum memutuskan, dan kesempatan menelusuri kenapa masalah itu muncul, bukan sekadar menghentikan gejalanya.

Ibarat dua orang yang sama-sama tiba di tujuan yang sama, satu orang berlari terengah-engah karena hampir ketinggalan kereta, satu lagi berjalan santai karena berangkat lebih awal. Sama-sama sampai, tapi salah satunya tiba dengan kepala lebih jernih dan energi yang tersisa untuk hal berikutnya.

Ritme yang Membuatnya Benar-Benar Terjadi

Niat untuk terus memperbaiki proses nyaris selalu ada di setiap organisasi. Masalahnya bukan tentang niat, melainkan soal tidak adanya mekanisme yang memaksa niat itu jadi tindakan konkret secara teratur.

Cara paling langsung untuk menutup celah ini adalah menjadikan evaluasi proses sebagai agenda yang berdiri sendiri, bukan titipan di ujung rapat lain yang selalu terpotong karena waktu habis. Sesi bulanan yang secara eksplisit hanya membahas satu hal, bagaimana pekerjaan sehari-hari dijalankan, bukan angka penjualan atau target kuartal, memberi ruang yang selama ini tidak pernah benar-benar tersedia.

Pertanyaannya bisa sesederhana, ”Bagian mana dari kerja bulan ini yang paling banyak menyita waktu tanpa alasan jelas? Adakah langkah yang masih dikerjakan hanya karena ’memang begitu dari dulu’, padahal tidak ada yang ingat lagi mengapa?”

Mekanisme lain yang sama pentingnya adalah membuka jalur bagi siapa pun untuk melaporkan gesekan kecil, jauh sebelum gesekan itu berubah jadi masalah besar. Orang-orang yang menjalankan proses setiap hari biasanya adalah detektor asap paling sensitif yang dimiliki organisasi, mereka sadar ada yang tidak beres jauh sebelum laporan resmi mana pun menunjukkannya. Kalau tidak ada jalur untuk menyalurkan kesadaran itu, sinyalnya menguap begitu saja, dan organisasi baru mendengarnya nanti  dalam bentuk keluhan yang jauh lebih keras.

Memberi Ruang bagi Orang yang Bertanya Duluan

Continuous improvement tidak bisa tumbuh hanya dari kemauan orang-orang di lapangan. Ia butuh sinyal jelas dari atas bahwa mempertanyakan proses yang masih berjalan baik bukan tindakan yang mencurigakan atau mengada-ada, melainkan justru yang diharapkan terjadi.

Sinyal ini sering muncul lewat hal-hal kecil yang gampang luput: Apakah masukan tentang proses kerja benar-benar didengarkan sampai selesai, atau hanya diangguki sambil pikiran sudah pindah ke agenda berikutnya? Apakah orang yang rajin mempertanyakan cara kerja lama dianggap teliti, atau malah dicap suka mempersulit? Sekecil apa pun, cara pemimpin merespons pertanyaan-pertanyaan semacam ini menentukan apakah budaya bertanya akan tumbuh atau justru mati sebelum sempat berakar.

Langkah Kecil yang Terus Berulang, Bukan Proyek Besar Sesekali

Salah satu alasan continuous improvement gagal tertanam adalah karena ia sering dibayangkan sebagai proyek besar yang butuh alokasi waktu dan sumber daya khusus. Padahal intinya justru kebalikannya, perubahan-perubahan kecil yang terus berulang, bukan transformasi besar yang hanya terjadi setahun sekali.

Sebuah tim tidak perlu menunggu proyek redesain proses berskala penuh untuk mulai bergerak. Cukup pilih satu titik kecil yang terasa mengganggu, coba cara berbeda, amati hasilnya selama beberapa minggu, lalu ulangi dengan titik berikutnya.

Kalau dilakukan konsisten, akumulasi dari langkah-langkah kecil ini pada akhirnya jauh melampaui hasil satu proyek besar yang mahal dan jarang terjadi. Risikonya pun lebih kecil. Kalau satu percobaan gagal, dampaknya mudah dibatalkan dan pelajarannya murah untuk didapat.

Organisasi yang terus membaik dan organisasi yang berulang kali terjebak dalam krisis serupa biasanya sama-sama punya orang yang cukup pintar untuk memecahkan masalah begitu keadaan darurat memaksa mereka. Yang membedakan bukan kemampuan itu, melainkan apakah evaluasi proses berjalan sendiri sebagai kebiasaan, atau hanya muncul setelah alarm kebakaran terpaksa dinyalakan.

Pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi, ”Apa yang salah?” setelah sesuatu pecah, tetapi, ”Apa yang bisa lebih baik?”,  diajukan justru pada hari-hari ketika semuanya terlihat baik-baik saja, saat tidak ada satu alasan mendesak pun yang memaksa pertanyaan itu diajukan.

Leave a Comment