Organization Development partner for business transformation and growth

Ketika Leader Kehilangan Hati

Empat hari lalu, saya menonton film Frankenstein. Awalnya saya mengira film ini hanya kisah klasik tentang ilmuwan gila dan makhluk menyeramkan hasil ciptaannya. Namun tanpa saya sadari, kisah ini justru membawa saya pada renungan yang dalam, bukan tentang sains, melainkan tentang kepemimpinan dan kemanusiaan.

Victor Frankenstein digambarkan sebagai sosok yang brilian, ambisius, dan penuh semangat untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa. Ia memiliki kemampuan ilmiah yang menakjubkan.

Namun di balik kecerdasannya, ia gagal dalam satu hal, ia tidak tahu bagaimana memperlakukan ciptaannya sebagai manusia. Ia memberi kehidupan, tetapi tidak memberi kasih. Ia mencipta, tapi tidak mau bertanggung jawab atas apa yang ia ciptakan.

Dari sinilah tragedi dimulai, bukan karena ciptaannya jahat, tetapi karena Victor sendiri gagal hadir sebagai pemimpin bagi makhluk yang ia hidupkan. Ia menciptakan, lalu meninggalkan. Ia menuntut kesempurnaan, tapi tidak memberi ruang untuk bertumbuh. Ia ingin hasil besar, namun lupa bahwa setiap kehidupan,  termasuk kehidupan organisasi, membutuhkan kehangatan, perhatian, dan arah yang jelas.

Pemimpin yang Cerdas belum Tentu Bijak

Di kehidupan nyata, banyak “Victor Frankenstein” dalam wujud yang lebih halus. Mereka adalah para pemimpin yang sangat cerdas, berorientasi hasil, penuh ide, dan mampu menciptakan sistem luar biasa. Mereka membangun struktur, merancang strategi, dan menciptakan budaya kerja yang tampak ideal. Tetapi, dalam kejaran target dan ambisi, mereka sering kali melupakan sisi manusia dari kepemimpinan itu sendiri.

Kepemimpinan tanpa empati ibarat mesin tanpa pelumas, cepat panas, cepat rusak, dan lebih buruk lagi, bisa melukai banyak orang di sekitarnya tanpa disadari. Sebuah tim tidak cukup hanya dibentuk. Ia harus dipimpin dengan hati. Sebuah visi tidak cukup hanya dideklarasikan. Ia harus dihidupi bersama. Seorang manusia, seberbakat apa pun, tetap membutuhkan kehadiran pemimpin yang peduli untuk berkembang dengan utuh.

Pada akhirnya, kisah Frankenstein bukan hanya tentang sains dan penciptaan, tetapi tentang tanggung jawab seorang pemimpin terhadap ciptaannya. Kita semua, dalam skala apa pun, adalah “pencipta”, entah itu tim, ide, sistem, atau budaya kerja. Namun seberapa sering kita, seperti Viktor, tenggelam dalam ambisi hasil dan lupa menengok manusia di balik proses itu?

Pemimpin sejati bukan hanya yang mampu membangun sesuatu yang hebat, tetapi juga yang hadir secara manusiawi di tengah timnya. Ia tahu kapan harus menuntun, kapan harus mendengar, dan kapan harus memberi ruang agar orang lain tumbuh. Karena sesungguhnya, keberhasilan bukan hanya soal hasil, tapi tentang hubungan dan rasa kemanusiaan yang kita tanam di sepanjang perjalanan.

“People don’t care how much you know until they know how much you care.”
John C. Maxwell

Dan kini, sebelum beranjak ke agenda Anda berikutnya,
sudahkah Anda menjadi pemimpin yang berempati?

Open chat
Hello, can I help you?