Organization Development partner for business transformation and growth

Jangan Bangga punya Banyak Anak Buah

Coba lihat kalender seorang manager yang membawahi lima belas orang. Kalau setiap anak buah hanya butuh tiga puluh menit sesi one-on-one setiap dua minggu, jumlah yang sudah terhitung minim untuk ukuran pendampingan yang layak, itu saja sudah menghabiskan lebih dari tujuh jam per bulan. Itu di luar rapat tim, di luar waktu untuk review pekerjaan, di luar waktu untuk memikirkan strategi, dan di luar waktu untuk pekerjaannya sendiri yang juga harus selesai.

Angka itu belum termasuk hal-hal yang tidak terjadwal, pertanyaan mendadak lewat chat, keputusan kecil yang harus disetujui, konflik antar anggota tim yang perlu dimediasi, atau satu orang yang sedang mengalami masalah performa dan butuh perhatian lebih dari sekadar tiga puluh menit setiap dua minggu.

Inilah wilayah yang dalam organization development disebut span of control, jumlah orang yang secara langsung melapor ke satu manager. Angka ini terdengar seperti detail administratif yang membosankan, tapi diam-diam menentukan hampir semua hal lain seberapa cepat keputusan bisa diambil, seberapa baik karyawan baru dibimbing, dan seberapa lama seorang manager bisa bertahan sebelum kelelahan menggerus kualitas kepemimpinannya.

Kenapa Rentang yang Lebar Terlihat Efisien di Atas Kertas

Ada godaan yang cukup masuk akal untuk memperlebar span of control, terutama di organisasi yang sedang berusaha ramping secara struktur atau menekan biaya. Semakin sedikit jumlah manager, semakin sedikit pula biaya gaji level menengah, dan semakin pendek jalur birokrasi dari atas ke bawah. Di atas spreadsheet perencanaan organisasi, angka ini terlihat sangat menarik, lebih sedikit layer, lebih murah, lebih “lean”.

Masalahnya, span of control bukan sekadar angka pembagian kepala. Ia adalah kapasitas perhatian manusia yang dibagi ke sejumlah orang, dan kapasitas itu tidak elastis tanpa batas. Seorang manager yang harus membagi perhatiannya ke lima belas orang sekaligus, cepat atau lambat, terpaksa mengorbankan kedalaman demi keluasan, ia bisa saja tetap tahu semua orang, tapi tidak lagi benar-benar mengenal masing-masing dari mereka.

Apa yang Sebenarnya Terjadi Ketika Rentang Terlalu Lebar

Gejalanya jarang muncul sebagai satu kejadian dramatis. Ia menyusup pelan lewat kebiasaan-kebiasaan kecil yang lama-lama menjadi normal.

  1. Coaching berubah jadi transaksi
    Sesi one-on-one yang seharusnya jadi ruang berkembang bagi karyawan, perlahan menyusut jadi sekadar update status pekerjaan apa yang sedang dikerjakan, apa yang tertunda, tanpa ruang untuk membahas hal yang lebih dalam seperti arah karier atau kesulitan yang dihadapi. Bukan karena manager tidak peduli, tapi karena waktunya memang tidak cukup untuk lebih dari itu.
  2. Keputusan menumpuk di satu titik
    Ironisnya, manager dengan span of control lebar sering justru menjadi satu-satunya jalur pengambilan keputusan, karena tidak ada waktu untuk mendelegasikan wewenang secara matang kepada bawahannya. Semua keputusan, besar maupun kecil, harus antre menunggu giliran diperhatikan, persis bottleneck yang sudah dibahas di banyak konteks proses bisnis lain, hanya saja kali ini bottleneck-nya adalah manusia, bukan tahapan dalam sebuah alur kerja.
  3. Masalah kecil terlambat terdeteksi
    Seorang manager yang benar-benar dekat dengan timnya biasanya menyadari tanda-tanda awal masalah, performa yang mulai menurun, tanda-tanda burnout, konflik yang mulai terbentuk  jauh sebelum masalah itu membesar. Ketika perhatian terbagi terlalu tipis ke terlalu banyak orang, tanda-tanda awal ini mudah terlewat, dan manajemen baru menyadarinya setelah masalahnya sudah cukup besar untuk terlihat tanpa perlu diperhatikan dengan seksama.
  4. Manager itu sendiri kelelahan lebih cepat
    Beban mengelola terlalu banyak orang tidak hanya menggerus waktu, tapi juga energi emosional. Manager yang terus-menerus berpindah dari satu masalah orang ke masalah orang lain, tanpa jeda untuk benar-benar menyerap dan merespons dengan baik, cenderung lebih cepat mengalami kelelahan, dan kelelahan pada level manager biasanya menular ke seluruh tim yang dipimpinnya.

Berapa Idealnya Jumlah Anak Buah untuk Satu Manager?

Pertanyaan, “Berapa idealnya jumlah anak buah untuk satu manager?” sering dijawab dengan angka pasti, tujuh, sepuluh, dua belas, padahal jawaban yang lebih jujur adalah: tergantung. Rentang yang tepat sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sering luput dari perhitungan.

  • Kompleksitas pekerjaan
    Tim yang mengerjakan pekerjaan repetitif dengan standar yang sudah sangat jelas, misalnya operator di lini produksi dengan SOP ketat, bisa ditangani oleh satu manager dengan rentang yang jauh lebih lebar, karena keputusan yang perlu diambil relatif sedikit dan bisa distandardisasi. Sebaliknya, tim yang pekerjaannya penuh nuansa dan membutuhkan penilaian situasional, misalnya tim riset, tim kreatif, atau tim yang menangani klien dengan kebutuhan berbeda-beda, butuh rentang yang jauh lebih sempit karena setiap kasus membutuhkan perhatian yang lebih personal.
  • Tingkat pengalaman tim
    Tim yang berisi orang-orang senior dan sudah sangat mandiri butuh pendampingan yang jauh lebih ringan dibanding tim yang didominasi karyawan baru. Rentang yang lebar mungkin aman untuk tim senior, tapi bisa jadi bencana kalau diterapkan pada tim yang sebagian besar anggotanya masih dalam masa belajar.
  • Sebaran lokasi kerja
    Tim yang bekerja dalam satu ruangan yang sama punya lebih banyak kesempatan berinteraksi informal, yang secara tidak langsung mengurangi beban manager untuk selalu proaktif mencari tahu keadaan timnya. Tim yang tersebar di lokasi berbeda, apalagi lintas zona waktu, butuh perhatian yang jauh lebih terstruktur dan sengaja dijadwalkan, karena tidak ada percakapan informal yang bisa mengisi celahnya.
  • Ketersediaan dukungan sistem
    Organisasi dengan sistem informasi yang matang, dashboard performa yang jelas, alur eskalasi yang otomatis, dokumentasi yang lengkap, bisa mendukung manager mengelola rentang yang lebih lebar, karena sebagian beban pemantauan sudah dibantu sistem. Tanpa dukungan semacam ini, semua beban pemantauan jatuh sepenuhnya ke kemampuan personal sang manager.

Tanda-Tanda yang Layak Diwaspadai

Beberapa sinyal berikut sering menjadi indikasi bahwa span of control di sebuah tim sudah melampaui batas wajar, meski tidak ada satu pun manager yang secara terbuka mengeluh soal ini.

Turnover yang tinggi khusus di satu tim tertentu, sementara tim lain relatif stabil, sering kali bukan soal budaya perusahaan secara keseluruhan, melainkan soal satu manager yang kewalahan mengelola terlalu banyak orang sekaligus.

Karyawan baru yang butuh waktu jauh lebih lama dari biasanya untuk benar-benar produktif juga bisa jadi tanda bahwa pendampingan yang mereka terima di awal masa kerja tidak cukup mendalam.

Begitu pula dengan keputusan-keputusan kecil yang terus-menerus tertunda karena harus menunggu giliran disetujui manager yang sama, ini sering jadi indikasi paling jelas bahwa satu orang sudah menjadi titik kemacetan bagi terlalu banyak hal sekaligus.

Bukan Selalu Soal Menambah Manager Baru

Solusi paling reflektif ketika span of control terlalu lebar adalah menambah satu layer manajemen baru. Tapi solusi ini punya konsekuensinya sendiri, struktur organisasi jadi lebih berlapis, jalur komunikasi dari atas ke bawah jadi lebih panjang, dan biaya operasional bertambah. Sebelum buru-buru menambah layer, ada beberapa opsi lain yang layak dipertimbangkan lebih dulu.

Mendelegasikan wewenang pengambilan keputusan kecil ke anggota tim yang paling senior bisa mengurangi beban tanpa perlu menambah struktur baru, cukup dengan memperjelas keputusan mana yang benar-benar butuh persetujuan manager, dan mana yang sebenarnya bisa diputuskan sendiri oleh timnya. Memperkuat sistem dan dokumentasi juga bisa membantu, semakin banyak pertanyaan rutin yang bisa dijawab lewat panduan tertulis, semakin sedikit yang harus bergantung pada waktu personal sang manager.

Span of control sering dianggap sebagai keputusan struktural yang sekali ditetapkan lalu dibiarkan begitu saja, padahal ia seharusnya ditinjau ulang setiap kali tim bertumbuh, setiap kali komposisi pengalaman timnya berubah, dan setiap kali kompleksitas pekerjaannya bergeser.

Leave a Comment