Produktivitas adalah kata yang hampir selalu dipuja, namun ada sisi gelap yang jarang dibicarakan. Ketika dorongan untuk terus berprestasi berubah menjadi tekanan tanpa jeda, ketika kerja keras menjadi standar minimum, dan ketika istirahat dianggap sebagai tanda kurang komitmen, saat itulah produktivitas berubah menjadi toxic productivity.
Hal ini sering kali, sumbernya bukan dari tim. Melainkan dari level leader.
Banyak leader memiliki niat baik. Mereka ingin timnya unggul, ingin organisasi berkembang, ingin semua orang mencapai potensi terbaiknya. Namun tanpa kesadaran, semangat ini bisa berubah menjadi ekspektasi yang tidak realistis.
Leader yang selalu online, membalas pesan tengah malam, memuji orang yang lembur terus-menerus, atau secara halus menyindir mereka yang pulang tepat waktu, tanpa disadari sedang menetapkan standar budaya kerja.
Budaya dibentuk oleh perilaku yang ditoleransi dan dihargai. Ketika yang dihargai adalah overwork, maka yang lahir adalah kelelahan kolektif. Ketika yang dipuji adalah selalu siap, maka yang muncul adalah rasa bersalah untuk beristirahat.
Produktif atau Takut Gagal?
Dalam lingkungan toxic productivity, karyawan sering terlihat sangat sibuk. Kalender penuh. Chat aktif. Proyek berjalan simultan. Secara kasat mata, semuanya tampak dinamis.
Apakah mereka benar-benar produktif, atau hanya takut dianggap tidak cukup?
Ketika leader terlalu fokus pada output tanpa memahami kapasitas manusia, tim mulai bekerja bukan untuk menghasilkan nilai, melainkan untuk menghindari penilaian negatif. Energi habis untuk terlihat sibuk, bukan untuk berpikir strategis.
Dampaknya tidak langsung terlihat. Bahkan dalam jangka pendek, angka performa bisa saja tetap baik. Namun dalam jangka panjang, kualitas menurun, kreativitas melemah, dan keputusan menjadi reaktif.
Leader mungkin merasa timnya tangguh dan mandiri. Padahal yang terjadi adalah akumulasi tekanan yang tidak terkelola.
Dan ketika tekanan itu mencapai titik jenuh, dampaknya tidak lagi berupa penurunan performa sementara, tetapi burnout dan turnover.
Organisasi kehilangan ruang refleksi. Semua bergerak cepat, tetapi tidak selalu bergerak tepat.
Leader yang sehat memahami bahwa manusia bukan mesin. Ada kapasitas kognitif, emosional, dan fisik yang harus dikelola. Produktivitas yang berkelanjutan dibangun dari sistem kerja yang realistis, prioritas yang jelas, dan ekspektasi yang terkomunikasikan dengan baik.
Alih-alih menuntut semua hal menjadi prioritas, leader yang efektif berani menentukan apa yang benar-benar penting, dan apa yang bisa menunggu.
Mereka tidak hanya bertanya, “Bagaimana caranya lebih cepat?” tetapi juga, “Apakah ini perlu dilakukan sekarang?” dan “Apa dampaknya bagi tim?”
Refleksi untuk Level Leader
Toxic productivity tidak muncul karena niat buruk. Karena itu, berikut beberapa refleksi untuk para Leader :
- Apakah saya secara konsisten memberi contoh batas kerja yang sehat?
- Apakah saya menghargai hasil, atau sekadar jam kerja panjang?
- Apakah tim merasa aman untuk mengatakan bahwa mereka kewalahan?
- Apakah saya membedakan antara urgensi nyata dan urgensi yang saya ciptakan sendiri?
Leadership bukan hanya tentang mendorong performa, tetapi juga tentang menjaga keberlanjutan performa tersebut.
Organisasi yang hebat bukan yang paling sibuk. Melainkan yang mampu menjaga energi, fokus, dan kualitas dalam jangka panjang.

